Review Challengers, Cinta Segitiga di Lapangan Tenis

Drama cinta segitiga dengan cerita olahraga

TIRE_TOWN_STILLS_PULL_230607_002_RC (Small).jpg

Dibandingkan dengan film-film olahraga lain yang umumnya menonjolkan tema-tema tentang petarung underdog atau kisah kebangkitan seorang atlet, Challengers yang disutradarai oleh Luca Guadagnino (Call Me by Your Name, Bones and All) menonjolkan tema cinta segitiga yang menjadi ciri khasnya, tanpa mengurangi kegembiraan yang dihadirkan oleh unsur-unsur olahraga dalam film.

Mari kita simak kisah cinta segitiga Tashi Duncan, Patrick Zweig, dan Art Donaldson, di bawah ini.

1. Tenis menjadi perekat utama

C_05803_R (Small).jpgDok. Warner

Film ini memulai ceritanya dengan final turnamen tenis level challengers, di mana Art Donaldson (diperankan oleh Mike Faist) dan Patrick Zweig (Josh O’Connor) berhadapan. Melalui serangkaian kilas balik, penonton dibawa untuk mengenal perjalanan karier kedua atlet ini serta sosok yang memengaruhi hidup mereka, Tashi Duncan (Zendaya).

Ketiga karakter utama ini masing-masing memiliki gairah dan motivasi tersendiri terhadap tenis. Tashi, yang dulunya adalah calon bintang tenis namun harus mengakhiri karier karena cedera, berusaha melalui karier suaminya, Art, untuk menebus kegagalannya di dunia tenis.

Sementara Art, yang sudah mendekati akhir kariernya, berjuang untuk menemukan kembali semangat juaranya. Patrick, di sisi lain, bertekad untuk meraih kejayaan profesional yang selama ini terlewatkan akibat kesombongan dan cara dia menjalani kehidupan.

Baca Juga: Review Civil War, Potret Hidup Wartawan Perang

2. Zendaya bersinar

C_05746_R2 (Small).jpgDok. Warner

Dalam perannya di Challengers, Zendaya mencuri perhatian dengan penampilan karismatik dan memukau, menggambarkan kompleksitas karakter Tashi dengan semangat dan gairah.

Dia terjebak dalam segitiga cinta dan ketegangan antara dua pria. Kehadiran Tashi, yang membentuk perjalanan karier dan persahabatan mereka, membuat penonton bertanya-tanya, siapakah yang sebenarnya dicintainya? Atau jangan-jangan dia tidak mengenal cinta karena semua hanyalah permainan tenis semata.

Penampilan Josh O'Connor sebagai Patrick juga patut diacungi jempol karena kemampuannya memancarkan pesona di balik kesombongannya, sementara Mike Faist, sebagai Art, memikat penonton dengan penampilan yang naif dan alami begonya.

3. Banyak elemen bagus

C_01575_RC (Small).jpgDok. Warner

Alur cerita maju mundur memberikan dinamika tersendiri bagi penonton. Melalui serangkaian kilas balik, kita diajak untuk memahami perjalanan hidup ketiga karakter utama. Bagian akhir film yang dibuat dengan nuansa menggantung memungkinkan penonton untuk berspekulasi siapa yang sebenarnya menang dalam pertandingan tersebut.

Sinematografi jelas menjadi salah satu elemen terkuat dalam Challengers. Penonton dibawa masuk ke dalam arena tenis dengan detail kamera yang memperlihatkan sudut pandang pemain, close-up yang intens, hingga gerakan pukulan yang mendalam secara visual. Ditambah dengan efek suara pukulan dan sorak sorai penonton.

Paling yang kurang datangnya dari editing musik yang terkadang tidak pas. Entah mengapa kami menemukan banyak sekali musik yang menabrak secara kasar ke dalam adegan. Merusak momen-momen penting di dalam film.

4. Kesimpulan

C_00654_R (Small).jpgDok. Warner

Challengers berhasil menyajikan perpaduan yang sempurna antara drama romantis dan ketegangan olahraga. Dengan penampilan memikat dari para pemain utamanya, serta sinematografi dan skor yang pas, film ini layak menjadi salah satu hiburan terbaik bagi penyuka drama cinta segitiga ataupun olahraga.

Kami memberikan nilai 3,5 dari 5 bintang review untuk Challengers. Film ini sudah bisa ditonton di 26 April 2024.

https://www.youtube.com/embed/-2N3hmRmwHQ

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU